SELAMAT DATANG BLOG COWOK CAKEP

DILARANG MEROKOK RUANG BLOG INI BER AC

Senin, 14 Februari 2011

manajemen kelas


BAB VI
TAHAP DAN PENANGGULANGAN
PELANGGARAN DISIPLIN
Latar Belakang
Terpeliharanya disiplin menunjuk kepada kepatuhan terhadap pelaksanaan peraturan sekolah dan menunjuk kepada berjalannya sistem kontrol dalam kelas. Terpeliharanya disiplin tersebut memerlukan keterlibatan serangkaian strategi. Strategi tersebut adalah strategi dalam mengubah perilaku peserta didik kearah pemilikan kesadaran melaksanakan semua peraturan yang telah dibuat. Pemilikan kesadaran melaksanakan semua peraturan yang telah dibuat. Pemilikan kesadaran tersebut, bukan karena paksaan melainkan datang dari dirinya sendiri yang memang merupakan kebutuhan dan memberikan kemanfaatan kepadanya.
Disamping itu, terpeliharanya disiplin di kelas mengisyaratkan bahwa guru dapat menanggulangi masalah-masalah yang terjadi di kelas, seraya menetralisir dengan cara menanggulangi emosi-emosi peserta didik.
Penanggulangan pelanggaran disiplin kelas perlu dilaksanakan secara penuh kehati-hatian, demokrasi dan edukatif. Cara-cara penanggulangan dilaksanakan secara bertahap dengan tetap memperhatikan jenis gangguan yang ada dan siapa pelakunya, apakah dilakukan oleh individu atau kelompok. Langkah tersebut mulai dari tahap pencegahan sampai tahap penyembuhan, dengan tetap bertumpu pada penekanan substansinya bukan pada pribadi peserta didik. Di samping itu, guru juga tetap harus menjaga perasaan kecintaan terhadap peserta didik, bukan karena rasa benci atau emosional. Namun demikian, disadari benar bahwa disiplin di kelas sangat dipengaruhi berbagai faktor, diantaranya faktor lingkungan siswa seperti lingkungan rumah. Oleh karena itu, guru juga perlu menjalin kerja sama dengan orang tua di rumah, agar kebiasaan disiplin di sekolah yang hendak dipelihara itu semakin tumbuh subur.
Bab ini adalah bab yang mengulas: tahap-tahap memelihara disiplin; jenis dan cara penanggulangan disiplin; dan kebiasaan hidup tertib. Untuk memahami tahapan, jenis, cara, penanggulangan gangguan disiplin yang edukatif, demokratis, akurat, dan dengan tetap menumbuhkan rasa cinta kepada peserta didik, diharapkan para mahasiswa menyimak bab ini dengan baik dan sungguh-sungguh. Kemudian jawab pertanyaan yang ada dan kerjakan tugas-tugas yang ditugaskan kepada anda.
Tujuan
Setelah mempelaji bab ini, anda diharapkan dapat:
 Menjelaskan tahapan-tahapan cara memelihara disiplin kelas;
Ø
 Menjelaskan langkah-langkah menumbuhkan kesan positif pada pertemuan awal di kelas;
Ø
 Menjelaskan alasan-alasan diterapkannya campur tangan (intervensi) oleh guru;
Ø
 Mengemukakan kemungkinan jenis-jenis gangguan disiplin yang muncul di kelas;
Ø
 Menjelaskan cara-cara penanggulangan disiplin kelas berdasar jenis gangguan kelas yang muncul;
Ø
 Menyebutkan berbagai alat yang dapat digunakan
Ø pada saat pengenalan siswa;
 Menjelaskan tahap-tahap pemeliharaan disiplin pada saat mengingatkan peraturan dan konsekuensinya;
Ø
 Menyimpulkan bahwa pelaksanaan konsekuensi atas pelanggaran tata tertib bukan dimaksud sebagai ukuman;
Ø
 Mengiktisarkan langkah-langkah yang harus dilakukan pada tahap penyembuhan;
Ø
 Menyimpulkan bahwa sajian yang menarik, penampilan yang menarik, ketepatan penanganan dapat mencegah gangguan disipln kelas;
Ø
 Menjelaskan prinsip-prinsip kelas yang perlu diperhatikan dalam menjatuhkan hukuman dalam menegakkan disiplin;
Ø
 Menyimpulkan bahwa dengan pembiasaan disiplin sekolah akan berpengaruh positif siswa dimasa yang akan datang;
Ø
 Menjelaskan hal-hal yang dapat menumbuh-suburkan sikap;
Ø
 Memahami bahwa sikap guru yang demokratis merupakan kondisi bagi terbinanya tertib kearah siasat atau kearah sendiri;
Ø
 Menunjukkkan bagaimana menjalin hubungan antara guru dengan orang tua
Ø di rumah agar supaya menegakkan disiplin dikelas ditunjang.

1. Tahap Pemeliharaan Disiplin
Memelihara disiplin adalah satu proses. Karena ia proses maka memelihara disiplin akan terdiri dari serangkaian tahapan yang harus diperhatikan oleh para penegak disiplin.
a. Tahap pencegahan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tahap ini adalah penciptaan suasana kelas, ketepatan perencanaan, dan intruksional. Mengenal identitas, misalnya (nama, sifat, kesukaan). Peserta didik adalah hal-hal yang penting dalam penciptaan suasana kelas. Disamping itu pemberian catatan yang memberi dorongan kepada pekerjaan peserta didik sangatlah membantu. Merencanakan pengajaran dan mengajar peserta didik yang penuh variatif dan dengan hal-hal yang aktual dengan topik-topik yang relevan sangatlah membantu tumbuhnya belajar aktif dan percaya diri. Akhirnya penguasaan akan disipin akademiknya akan menambah kredibilitas guru yang akan dipelukan juga dalam proses pembelajarn.

b. Pemeliharaan
Pemeliharaan perilaku pada umumnya harus sejalan dengan pedoman yang telah ditetapkan agar peserta didik tetap dapat menjalankan tugas-tugasnya. Pedoman itu harus memenuhi kepatuhan, kebermaknaan, dan kepraktisan kearah belajar aktif. Peserta didik patut menerimah perhatian secara teratur untuk mengurangi gangguan dan menghindari tumbuhnya perilaku menyimpang. Pertemuan pertama, misalnya adalah saat yang penting dalam memelihara perilaku-perilaku yang diharapkan. Tumbuhkan kesan positif pada pertemuan pertama ini dengan mengemukakan program/ perencanaan pembelajaran.
Langkah-langkah seperti:
1) Mulailah dengan saling berkenalan secara tepat;
2) Informasikan gambaran umum, latar belakang, garis besar perhatian dan aktivitas yang relevan dari bidang studi yang akan ditempuh peserta didik;
3) Informasikan harapan-harapan akademis dan kebijakan penilaian secara rasional;
4) Beri kesempatan peserta didik menyatakan harapan-harapan mereka dengan kemungkinan-kemungkinan yang saling menguntungkan.
c. Campurtangan (intervensi)
Campur tangan atau usaha guru untuk menyetop perilaku tidak pantas dari peserta didik diperlukan bila tehnik-tehnik yang diterapkan dalam fase pencegahan dan pemeliharaan tidak berhasil. Namun dalam fase campurtangan ini hendaknya dicari teknik yang efektif yang dilakukan secara hemat dan penuh pertimbangan. Campurtangan lebih dilakukan pada gejala utamanya dari pada kepada perilaku penyimpangannya. Guru melakukan tetapi situasi dari pada peraturan disiplinnya. Guru hendaknya menggunakan pendekatan ilmu dan seni pendidikan dalam fase ini. Guru memerlukan keahlian dalam langkah-langkah intervensi seperti : bertanya, menatap mata peserta didik, mendekati peserta didik, memberi isyarat, dengan tangan atau kepala agar peserta didik tidak berperilaku tidak pantas. Kalau cara ini belum berhasil, mintalah peserta didik menyebut namanya untuk diam atau memindahkan tempat duduknya, atau melakukan apa saja yang tepat untuk hasil itu. Hal itu semua harus dilakukan dengan tenang dan tidak amosional. Hindari segala jenis tindakan yang menimbulkan konfrontasi. Ingat, ini bukan “situasi kemenangan” bagi guru.

d. Pengaturan
Tujuan pengaturan perilaku adalah mengurangi kesalahan pelaksanaan pengembangan kecakapan peserta didik. Fase ini merupakan fase penting demi tercapainya tujuan peserta didik. Guru tidak dilatijh mengobati dan mereka harus menyadari kesalahan dalam menanggulangi hal-hal yang menyebabkan aneka perilaku. Namun demikian, guru harus memiliki kesabaran, potensi mempengaruhi sikap dan perilaku dengan cara yang tidak merugikan. Guru dapat membantu peserta didik menyadari bahwa perilaku memiliki konsekuensi dengan kehidupan mereka. Lebih lanjut guru dapat mempertimbangkan alternative aktivitas kearah pengembangan perilaku positif melalui cara yang efektif.

2. Jenis Gangguan Dan Cara Penanggulanagn Gangguan Disiplin
Dengan tidak mengurangi kebebasan guru menemukan cara penanggulangan gangguan disiplin kelas, terdapat beberapa petunjuk umum cara penanggulangan gangguan disiplin seperti dikemukakan Hollingsworth dan Hoower (1991 : 72-74) berikut ini:

a. Gangguan percakapan
Percakapan antar sesama peserta didik yang mengancam disiplin perlu segera ditanggulangi. Guru dapat segera menghampiri mereka dan memotivasi mereka agar kembali mengerjakan tugas-tugasnya. Atau guru dapat bertanya, atau meminta siswa mengajukan pertanyaan, menyuruh menyelesaikan tugas secara khusus kepada peserta didik yang bercakap tadi.

b. Gangguan melempar catatan
Gangguan melempar catatan muncul akibat adanya kebosanan atau ketidak tepatan kegiatan belajar mengajar. Mengambil langkah hati-hati, dalam situasi ini sangat penting tidak tepat bila guru membaca keras-keras catatan itu. Secara persuasive menyatakan bahwa perbuatan itu akan merugikan diri siswa sendiri dan akan mengganggu kelas.

c. Gangguan kebebasan yang berlebihan diantara siswa
Bebas adalah naluri manusia, tetapi kebebasan berlebihan perlu dicegah jangan sampai berkembang merusak disiplin kelas. Berdialog antara guru dan peserta didik tentang hak dan kewajiban peserta didik perlu dilaksanakan. Katakan kepada para siswa bahwa disamping hak, ada kewajiban untuk tidak mengganggu orang lain.

d. Gangguan permusuhan antara peserta didik tau kelompok
Bicaralah dengan masing-masing pihak secara individual atau kelompok . berusaha mencari penyebab permusuhan ini dan cobalah adakan perubahan-perubahan baru.
Katakan bahwa permusuhan adalah perbuatan tidak baik dan permusuhan akan mengakibatkan hilangnya teman bergaul.

e. Gangguan menyontek
Menyontek terjadi akibat dari ketidak siapan peserta didik atau materi yang melebihi batas. Berilah motivasi dan keempatan yang bijak dan tugas yang sesuai dengan kemampuan peserta didik. Katakan pada mereka bahwa menyontek akibat dari tidak belajar. Menyontek, selain konsentrasi buyar juga tidak akan dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Oleh karena itu, belajarlah dengan rajin dan tekun.

f. Gangguan pengaduan
Disiplin kelas kadang-kadang terganggu oleh adanya pengaduan disamping adanya laporan dari peserta didik. Gangguan harus dapat membedakan pengaduan dan laporan tentang sesuatu. Namun guru perlu berlaku bijaksana dan konsisten dalam menjelaskan ke dua hal tersebut.

g. Gangguan tabiat marah
Guru segera menghampiri atau memindahkan peserta didik yang bertabiat marah dan menjauhkan peserta didik lain.

Sebagai pendengar, guru kemudian mencari sebab dan membantu menyelesaikan persoalannya.

h. Gangguan penolakan permohonan guru
Berdialog secara terus menerus dan mencari alternatif lain adalah salah satu cara yang dapaot ditempuh oleh guru terhadap gangguan ini. Permohonan yang rasional untuk seorang siswa belum tentu sesuai dengan siswa lain. Penciptaan suasana sejuk dan objektif akan menghilangkan gangguan semacam ini.

i. Gangguan perpindahan situasi
Perpindahan situasi merupakan jenis lain dari gangguan disiplin kelas (ganti pelajaran pindaj kelas, perubahan jadwal). Oleh karena itu, perpindahan situasi harus diiringi oleh kesiapan akan alternatif dan inisiatif lain, serta pengawasan.

Di samping itu, terdapat berbagai cara lain yang dapat ditempuh guru dalam menanggulangi pelanggaran disiplin. Cara tersebut antara lain:

a. Pengetahuan siswa
Makin baik guru mengenal siswa makin besar kemungkinan guru mencegah pelanggaran disiplin. Sebaliknya anak yang frustasi karena merasa tidak mendapat perhatian guru dengan semestinya sangat mungkin terjadinya siswa tersebut melanggar disiplin sekolah. Setiap siswa pada dasarnya mempunyai daya atau tenaga untuk mengontrol dirinya. Siswa yang tidak diperhatikan orang tua dan gurunya kurang dapat mengontrol dirinya sendiri biasanya kurang menghargai otoritas dan mereka tidak menyukai dan membencinya.
Pengenalan terhadap mereka dan latar belakangnya merupakan usaha penanggulangan pelanggaran disiplin. Berbagai alat dapat digunakan, misalnya:

1) “interest-inventory” merupakan cara sederhana yang dilakukan guru. Alat ini berupa sejumlah pertanyaan misalnya tentang buku yang disenangi, hoby, favorit, aktivitas yang dikerjakan siswa, acara yang disenangi dari siaran televisi, guru yang paling disenangi, dan sebagainya.

2) “sosiogram” yang dibuat dengan maksud untuk melihat bagaimana persepsi para siswa dalam rangka hubungan sosio-psikologis dengan teman-temannya.
3) “feedback letter” dimana siswa diminta untuk membuat satu karangan atau satu surat tentang perasaan mereka terhadap sekolahnya; apa yang disukai pada saat pertama kali masuk sekolah, pada saat pelajaran berlangsung, pada saat istirahat, keadaan lingkungan sekolah, pada saat pulang sekolah dan sebagainya
{gambarnya terserah anda}
b. Melakukan tindakan korektif
Dalam kegiatan melakukan tindakan disiplin kelas, tindakan tepat dan segera dapat diperlukan. Dimensi tindakan merupakan kegiatan yang seharusnya dilakukan guru bila terjadi masalah pelanggaran disiplin. Guru yang bersangkutan dituntut untuk berbuat sesuatu dalam menghentikan perbuatan sesuai setepat mungkin. Guru harus segera mengingatkan siswa terhasdap peraturan dan tata tertib (yang dibuat dan diterapkan bersama) dan konsekuensinya, kemudian melaksanakan sanksi yang seharusnya berlaku. Kegiatan ini juga bertujuan untuk memonitor efektivitas aturan tata tertib. Setelah jangka waktu tertentu guru bersama murid dapat meninjau kembali aturan sekolah tersebut untuk memodifikasi dan diperbaiki. Bagaimana cara melakukan dimensi tindakan ini, beberapa hal dibawah ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi guru.

1) Lakukan tindakan dan bukan ceramah
Bila ada seorang siswa melakukan tindakan yang dapat mengganggu kelas lakukan kegiatan menghentikan kegiatan tersebut secara tepat dan segera. Cara bertindak atau memberikan ceramah tentang kesalahan yang dibuat siswa pada saat itu akan membuat siswa malah menjadi bingung. Pesan-pesan non-verbal atau body languange, baik berupa isyarat tangan, bahu, kepala, alis, dan sebagainya dapat membantu dalam penegakkan disiplin kelas.

2) Jangan tawar menawar (do not bargain)
Bila terjadi pelanggaran yang dilakukan seorang siswa dan melibatkan atau menyalahkan siswa lainnya guru harus segera melakukan tindakan untuk menghentikan gangguan tersebut. Tidak ada untungnya kalau pada saat itu guru membuka forum diskusi untuk membicarakan tentang peraturan dan mencari siapa yang bersalah. Sekali lagi segera hentikan penyimpangan tingkah laku siswa dengan tindakan.

3) Gunakan “kontrol” kerja
Mungkin sekali banyak hal yang belum tercangkup dalam tata tertib terjadi dalam kelas. Kewajiban guru adalah mencoba menghindarkan hal tersebut dengan melakukan kontrol sosial. Misalnya dengan membuat ruangan tapal kuda sehingga guru dapat langsung berhadapan muka dengan para siswa, dan sekaligus dapat mengontrol tingkah laku mereka. Pendekatan dengan siswa sangat diperlukan karena kalau mereka merasa dekat dengan guru akan memperkecil kesempatan mereka untuk berbuat “nakal” dan melanggar tata tertib sekolah.

4) Nyatakan peraturan dan konsekuensinya
Bila ada siswa yang melanggar peraturan tata tertib sekolah, komunikasikan kembali apa aturan yang dilanggarnya secara jelas dan kemukakan akibatnya bila peraturan yang telah dibuat dan disepakati bersama itu dilanggar. Konsekuensi itu dilakukan secara bertahap dimulai dari peringatan, teguran, memberi tanda cek, di suruh menghadap kepala sekolah dan atau dilaporkan kepada orang tuanya tentang pelanggaran yang dilakukannya di sekolah. Bila ada tindakan siswa yang mengganggu suasana proses belajar mengajar, segera hentikan gangguan tersebut, kemudian usahakan memahami alasan mengapa siswa tersebut bertindak demikian. Kemudian kepadanya harapan kita sebagai guru dan teman-teman lain yang akan terganggu konsentrasinya dan nyatakan tingkah laku bagaimana yang diharapkan dari siswa yang bersangkutan. Tindakan guru hendaknya cukup tegas dan berwibawa dan hendaknya hindarkan hal-hal tindakan yang menyebabkan siswa yang menyebebkan siswa mendapat malu di depan teman-temannya.

Beberapa petunjuk dibawah ini dapat diperhatikan:
a) Pilihlah dan pakailah konsekuensi yang paling ringan dalam alternatif penanggulangan seperti teguran, peringatan, memberi tugas tambahan dan sebagainya. Hindarkan konsekuensi yang berat dan memberi hukuman.
b) Jika ternyata satu konsekuansi yang dipilih tidak fektif, berhentilah dan pindahkan kepada alternatif lain yang diperkirakan akan memberikan hasil yang lebih baik.
c) Tidak menutup kemungkinan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih salah satu alternatif konsekuensi dari pelanggaran yang sudah dibuatnya.
d) Ingat bahwa pelaksanaan konsekuensi atas pelanggaran terhadap tata tertib, tidak dimaksudkan untuk menghukum.
e) Konsekuensi dibuat ubtuk mengelola tindakan yang melanggar aturan pada saat tertentu. Besok adalah hari lain dan konsekuensi hanya berlaku pada hari itu dan saat itu.

Dalam kegiatan menegakkan disiplin dibutuhkan satu kegiatan monitoring. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menemukan peraturan mana dan alternatif mana secara empirik merupakan alat yang efektif dalam mengatasi problema disiplin. Kegiatan inipun bertujuan untuk mengidentifikasi siswa yang sukar mengikuti peraturan sekolah. Dari hasil pengalaman beberapa waktu dan baiknya kalau guru menampung pendapat para siswa tentang peraturan mana yang dianggap tidak perlu dan dibuang.

c. Melakukan tindakan penyembuhan.
Pelanggaran yang sudah terlanjur dilakukan siswa atau sejumlah siswa perlu ditanggulangi dengan tindakan penyembuhan baik secara individual maupun secara kelompok. Situasi pelanggaran ini dapat terbentuk:
1) Siswa melanggar sejumlah peraturan sekolah yang telah disepakati bersama.
2) Siswa tidak mau menerima atau menolak konsekuensi seperti yang telah tercantum dalam peraturan sekolah sebagai akibat dari perbuatannya.
3) Seorang siswa menolak sama sekali aturan khusus yang telah tercantum dalam tata tertib sekolah.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam tindakan penyembuhan ini ialah:
1) Mengidentifikasi para siswa yang mendapat kesulitan untuk menerima dan mengikuti tata tertib atau menerima konsekuensi dari pelanggaran yang dibuatnya;
2) Membuat rencana yang diperkirakan paling tepat tentang langkah-langkah yang akan ditempuh dalam mengadakan kontrak dengan siswa yang semacam ini;
3) Menetapkan waktu pertemuan dengan siswa tersebut yang disetujui bersama oleh guru dan siswa yang bersangkutan;
4) Bila saatnya bertemu dengan siswa tiba, jelaskanlah maksud pertemuan tersebut dan jelaskan pula manfaat yang diperoleh baik oleh siswa maupun oleh sekolah;
5) Tunjukkan kepada siswa bahwa guru pun bukan orang yang sempurna dan tidak bebas dari kekurangan dan kelemahan dalam berbagai hal, akan tetapi yang terpenting antara guru dan siswa harus tumbuh kesadaran untuk bersama-sama belajar, untuk saling memperbaiki diri, saling mengingatkan bagi kepentingan bersama;
6) Guru berusaha untuk membawa murid kepada masalahnya yaitu memahami tata tertib dan menjauhi pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku di sekolah;
7) Bila ada pertemuan yang diadakan dan ternyata siswa tidak responsif maka guru dapat mengajak siswa untuk melaksanakan diskusi pada saat lain tentang masalah yang dihadapinya;
8) Pertemuan guru dengan siswa harus sampai pada pemecahan masalah dan sampai kepada “kontrak individual” yang diterima siswa dalam rangka memperbaiki tingkah laku siswa tentang pelanggaran yang dibuatnya;
9) Melakukan kegiatan tindak lanjut.
{gambarnya terserah anda}
Konsep lain dalam mencegah gangguan disiplin kelas dapat dilakukan dengan hal-hal berikut:
a. Sajian yang menarik
Masalah disipin kelas terganggu karena penyajian meteri yang kurang menarik. Oleh karena itu, prosedur mengajar (orientasi, latihan/praktik, umpan balik, lanjutan) harus dilaksanakan dnegan cara yang menarik.

b. Penampilan yang menarik
Sajian yang menarik hendaknya diikuti oleh penampilan yang menarik. Guru adalah model dan panutan peserta didik. Oleh karena itu, dalam berbicara, berpakaian, bertingkah laku misalnya, hendaknya dijaga agar tetap menarik.

c. Ketepatan menangani masalah
Pengambilan tindakan penanggulangan masalah disiplin akan menyenangkan satu pihak tetapi mungkin merugikan pihak lain. Oleh karena itu, ketepatan penanganan masalah sangatlah perlu.

d. Belajar dari kesalahan
Boleh jadi banyak pengalaman yang berkesan disamping yang tidak menyenangkan dalam mengajar. Setelah kita mengajar 4-5 tahun lamanya. Akhirnya disadari banyak hal positif, efektif, namun ada juga yang kurang efektif untuk dilaksanakan dalam menanggulangi masalah disiplin. Kesiapan guru dalam mengajar akan mempengaruhi masalah disiplin, sebaliknya guru yang tidak siap gangguan disiplin akan timbul. Akhirnya belajar dari pengalaman, guru dapat memetik manfaatnya.

e. Penggunaan hukuman
Para pendidik tidak setuju mengenai sesuatu yang mengakibatkan berkembangnya perilaku menyimpang dibiarkan ada.tindakan yang berupaya menegakkan disiplin memang perlu. Hukuman kendatipun kadang-kadang kurang efektif dari ganjaran yang perlu diambil. Terdapat prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam memberi hukuman kepada peserta didik. Prinsip-prinsip berikut merupakan gagasan agar pemberian hukuman fleksibel dan mengkait dengan situasi dan kekhususan para siswa. Prinsip-prinsip tersebut seperti dikemukakan oleh Ornstien (1990), Eggen (1994) adalah:
1) Hukuman diberikan secara hormat dan penuh pertimbangan;
2) Berikan kejelasan/alasan mengapa hukuman diberikan;
3) Hindarkan pemberian hukuman pada saat marah atau emosional;
4) Hukuman diberikan pada saat awal kejadian dari pada akhir kejadian;
5) Hindari hukuman yang bersifat badaniah/fisk;
6) Jangan menghukum kelompok/kelas apabila kesalahan dilakukan oleh seseorang;
7) Jangan memberi tugas tambahan sebagai hukuman;
8) Yakini bahwa hukuman sesuai dengan kesalahan;
9) Pelajari tipe hukuman yang diijinkan sekolah;
10) Jangan menggunakan standar hukuman ganda;
11) Jangan mendendam;
12) Konsisten dengan pemberian hukuman;
13) Jangan mengancam dengan ketidak mungkinan;
14) Jangan memberi hukuman berdasar selera.

Jenis-jenis hukuman
1. Pengurangan skor atau penurunan peringkat
2. Pengurangan hak
3. Hukuman berupa denda
4. Pemberian celaan
5. Penahanan sesudah sekolah
6. Penyekoresan
7. Pengiriman kepada orang lain

Secara ringkas langkah-langkah pencegahan gangguan disiplin dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Umum
1) Peduli
2) Tandai gangguan
3) Amati dengan seksama
4) Tingkatkan kepentingan semua pihak
5) Humor
6) Penyusunan kembali program
7) Rutinitas
8) Permohonan langsung
9) Hindarkan barang-barang yang mengganggu
10) Pengendalian fisik

b. Moderat
1) Susun aktivitas kelas
2) Tentukan prosedur dan ketentuan dalam pembelajaran
3) Susun aktivitas dan tugas-tugas akademik
4) Susun kegiatan-kegiatan yang sudah rutin
5) Tekankan tujuan dampak sampingan dari belajar
6) Laksanakan kegiatan monitoring
7) Bentuk kelompok-kelompok belajar
8) Gunakan waktu secara efektif
9) Berikan petunjuk-petunjuk praktis
10) Kemukakan harapan-harapan guru

c. Kemanusiaan
1) Pengembangan kesadaran diri melalui umpan balik melalui: berikan penekanan pada tingkah laku bukan pada pribadi, berikan penekanan pada penjelasan bukan pada pendapat, berikan penekanan pada masa sekarang/akan datang bukan pada masa lampau, berikan penekanan pada proses perubahan pribadi.
2) Pengembangan dan pemeliharaan kepercayaan.
3) Efisiensi komunikasi seperti: gunakan orang pertama secara tunggal dan langsung, buatlah pesan secara lengkap/harmonis/kongkret, gunakan verbal dan non verbal secara harmonis, mintalah balikan, gambarkan perilaku tanpa penilaian.

3. Kebiasaan Hidup Tertib
Pembiasaan dengan disiplin di sekolah akan mempunyai pengaruh yang positif bagi kehidupan siswa di masa yang akan datang. Pada mulanya memang disiplin dirasakan sebagai suatu aturan yang mengekang kebebasan siswa. Akan tetapi bila aturan ini dirasakan sebagai sesuatu yang memang seharusnya dipatuhi secara sadar untuk kebaikan sendiri dan kebaikan bersama. Maka lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan yang baik menuju kearah disiplin diri sendiri (self discipline). Disiplin tidak lagi merupakan aturan yang datang dari luar yang memberikan keterbatasan tertentu. Akan tetapi disipli telah merupakan aturan yang datang dari dalam dirinya sendiri suatu hal yang wajar dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengalaman dasar dalam disiplin akan memberikan kerangka dalam keteraturan hidup selanjutnya. Disiplin diri sendiri hanya akan tumbuh dalam suatu suasana dimana antara guru dan para siswa terjalin sikap persahabatan yang berakar pada dasar saling hormat menghormati dan saling percaya mempercayai.

Hal ini akan tumbuh subur bila:
a. Guru bersikap hangat dalam membina sikap persahabatan dengan semua siswa. Menghargai mereka dan menerima mereka dengan berbagai keterbatasan.
b. Guru bersikap adil sehingga mereka merasa diperlakukan sama tanpa tumbuh rasa dianak tirikan atau disisihkan.
c. Guru bersikap objektif terhadap kesalahan siswa dengan melakukan sanksi sesuai dengan tata tertib bila siswa melanggar disiplin yang telah disetujui bersama.
d. Guru tidak menuntut para siswa untuk mengikuti aturan-aturan yang diluar kemampuan siswa.
e. Guru tidak menghukum siswa di depan teman-temannya sehingga mengakibatkan mereka merasa kehilangan muka.
f. Dapat diciptakan suasana optimis sehingga setiap siswa merasakan berhasil dalam segi-segi tertentu dan tidak senantiasa berada dalam situasi kegagalan dan kekecewaan.
g. Suasana kehidupan di sekolah tidak mendorong siswa ke arah tingkah laku yang dikehendaki.
h. Pada saat-saat tertentu disediakan penghargaan dan hadiah bagi siswa-siswa yang bertingkah laku sesuai dengan tuntutan disiplin yang berlaku sebagai suri tauladan yang baik.

Sikap guru yang demokratis merupakan kondisi bagi terbinanya kebiasaan berlaku tertib. Sikap ini akan memberi kesempatan kepada siswa untuk ikut terlibat dalam menegakkan disiplin sekolah, ikut bertanggung jawab, dan ikut mempertahankan aturan yang telah dipikirkan dan ditetapkan bersama.
Tentu saja dalam hal ini dibutuhkan kerjasama yang baik dengan orang tua dirumah agar kebiasaan disiplin yang baik disekolah ditunjang oleh kebiasaan yang baik di rumah dan sebliknya.
read more “manajemen kelas”

manajemen kelas


BAB V
PRINSIP-PRINSIP DISIPLIN KELAS
Latar Belakang
Disiplin bagi peserta didik adalah hal yang rumit dipelajari sebab disiplin merupakan hal yang kompleks dan banyak kaitannya yaitu berkait antara pengetahuan, sikap dan perilaku, kebenaran, kejujuran, tanggung jawab, kebebasan, rasa kasih sayang, tolong menolong dan sebagainya adalah beberapa aturan disiplin kemasyarakatan yang harus dipelajari/diketahui, disikapi dan ditegakkan oleh para siswa.
Peserta didik belajar beberapa hal dengan cara mendengarkan misalnya, tetapi mereka lebih suka mengingat dan bertindak dengan kata-kata dan gagasan mereka sendiri. Dan disini peserta didik akan belajar lebih cepat apabila mereka terlibat dalam menyusun tata tertib mereka itu. Walaupun demikian, guru harus mengarahkan dan menentukan tindakan-tindakan apa yang akan diambil bila tata tertib dilanggar, sehingga disiplin tetap dapat ditegakkan.
Terpeliharanya disiplin tidak lepas dari terpenuhinya kepentingan atau kebutuhan para pihak. Peserta didik memiliki banyak kepentingan, guru memiliki banyak kepentingan, demikian juga sekolah. Permasalahannya adalah bagaimana kepentingan-kepentingan dari masing-masing pihak dapat terpenuhi dan dapat diselaraskan agar tidak terjadi bentrokan.
Tidak terpenuhi kepentingan/kebutuhan oleh para pihak akan timbul gangguan yang mengganggu tatanan hidup dalam berinteraksi atau dalam berproses misalnya, dalam proses pembelajaran. Disamping itu para guru/sekolah perlu mencermati kepentingan/kebutuhan dalam memahami sumber-sumber pelanggaran disiplin. Dengan diketahuinya sumber gangguan disiplin maka akan diketahui pula secara teoritis cara penanggulangannya.

Disiplin yang baik adalah terjelmanya aktivitas yang mampu mengatur diri kepada terciptanya pribadi dan potensi sosial berdasar pengalaman-pengalamannya sendiri. Pemeliharaan disiplin dewasa ini pada dasarnya adalah bagaimana membantu anak mengembangkan disiplin dan menerima pusat pengendalian disiplin.
Bab yang membicarakan prinsip-prinsip disiplin kelas ini, akan mengulas pengertian disiplin; hak, kebutuhan para siswa dan tampilan guru hubungannya dengan disiplin; disiplin pada level sekolah dan kelas; membina hubungan sekolah dengan masyarakat; sumber pelanggaran disiplin sekolah; serta peraturan dan tata tertib kelas.
Dalam kaitan ini perlu diingat bahwa (1) disiplin dipertimbangkan sebagai kecenderungan dari para peserta didik menyetujui harapan para guru, (2) disiplin merupakan alat bantu menumbuhkan gagasan mutakhir dan seleksi praktik-praktik baru, dan (3) pelayanan yang layak cenderung menumbuhkan kualitas disiplin.

Tujuan
Setelah mempelajari bab ini anda diharapkan dapat:
1. Menjelaskan dengan kata-kata sendiri pengertian disiplin kelas,
2. Mengemukakan alasan mengapa basis kemanusiaan dan prinsip demokrasi merupakan petunjuk dan pengecek mengambil kebijakan dalam menegakkan disiplin,
3. Mengemukakan syarat-syarat pendekatan yang harus diperhatikan guru dalam menegakkan disiplin,
4. Menyimpilkan keuntungan-keuntungan terpeliharanya disiplin bagi para peserta didik,
5. Menarik kesimpulan bahwa menegakkan disiplin bukan atau tidak berarti mengurangi kebebasan berprestasi atau berkreasi para peserta didik,
6. Menjelaskan beberapa hak para siswa dalam kaitannya dengan dunia pendidikan,
7. Menggambarkan hierarcchi kebutuhan manusia menurut Maslow,
8. Mengkaitkan terpenuhinya kebutuhan manusia dengan terpeliharanya disiplin,
9. Menjelaskan manajemen kurikuler penting dalam menegakkan disiplin,
10. Menggambarkan upaya manajerial kepala sekolah dalam memelihara disiplin sekolah,
11. Menarik kesimpulan pentingnya menjalin hubungan antara sekolah dan masyarakat,
12. Menyebutkan lingkup hubungan sekolah dan lembaga pendidikan lainnya,
13. Menyimpulkan bahwa memberi atau meminta laporan secara teratur kepada aparat keamanan penting bagi langkah pemeliharaan disiplin sekolah,
14. Menyebutkan beberapa kondisi yang dapat menyebabkan disiplin sekolah terganggu,
15. Menjelaskan alasan mengapa penguatan verbal dan non verbal berpengaruh kepada terciptanya disiplin kelas,
16. Menjelaskan beberapa masalah yang ditimbulkan guru sehingga mempengaruhi tegaknya disiplin,
17. Menjelaskan beberapa masalah yang ditimbulkan peserta didik yang mengganggu terpeliharanya disiplin,
18. Menjelaskan beberapa masalah lingkungan yang mempengaruhi terciptanya disiplin,
19. Menyebutkan sebab-sebab umum yang mengganggu tegaknya disiplin,
20. Menjelaskan pentingnya tata tertib sekolah dibuat dan disebarluaskan kepada seluruh siswa,
21. Menybutkan komponen yang perlu ada dalam tata tertib sekolah.

1. Pengertian Disiplin Kelas
Kata disiplin berasal dari bahasa latin “disciplina” yang menunjuk kepada belajar dan mengajar. Kata ini berasosiasi sangat dekat dengan istilah “disiple” yang berarti mengikuti orang belajar dibawah pengawasan seorang pemimpin. Di dalam pembicaraan disiplin dikenal dua istilah yang pengertiannya hampir sama tetapi terbentuknya satu sama lain merupakan urutan. Kedua istilah itu adalah disiplin dan ketertiban, ada juga yang menggunakan istilah siasat dan ketertiban. Di antara kedua istilah tersebut terlebih dahulu terbentuk pengertian ketertiban, baru kemudian pengertian disiplin (Suharsimi, 1993: 114).
Ketertiban menunjuk kepada kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan atau tata tertib karena didorong atau disebabkan oleh sesuatu yang datang dari luar. Disiplin atau siasat menunjuk kepada kepatuhan seseorang dalam mengikuti peratran atau tata tertib karena didorong oleh adanya kesadaran yang ada pada kata hatinya. Disiplin kelas adalah keadaan tertib dalam satu kelas yang didalamnya tergabung guru dan siswa taat kepada tata tertib yang telah ditetapkan.
Disiplin merupakan sesuatu yang berkenaan dengan pengendalian diri seseorang terhadap bentuk-bentuk aturan. Disiplin merupakan sikap mental. Disiplin pada hakekatnya adalah pernyataan sikap mental dari individu maupun masyarakat yang mencerminkan rasa ketaatan , kepatuhan yang didukung oleh kesadaran untuk menunaikan tugas dan kewajiban dalam rangka pencapaian tujuan.
Sikap disiplin yang dilakukan oleh seseorng sebenarnya adalah suatu tindakan untuk memenuhi tuntutan nilai tertentu. Nilai-nilai tersebut diklasifikasikan menjadi:
a. Nilai-Nilai Keagamaan atau Nilai-Nilai Kepercayaan
Nilai ini diyakini kebenarannya sehingga melahirkan tindak-tindak disiplin yang penuh ketulusan untuk berkorban. Contoh: kewajiban sholat lima waktu dan puasa selama satu bulan pada bulan ramadhan bagi ummat islam; tidak melakukan aktivitas apapun kecuali berdoa selama satu hari pada hari Raya Nyepi bagi umat Hindu dan sebagainya.

b. Nilai-Nilai Tradisional
Nilai-nilai ini melahirkan tindak-tinduk pantangan yang kebanyakan tidak masuk akal dan mengandung misteri. Contoh: pantangan makan kaki ayam kalau tulisannya ingin baik; pantangan menduduki bantal; sialnya angka 13; pantangan menanam bunga Baugenvill di depan rumah bagi yang memiliki anak gadis dan sebagainya.

c. Nilai-Nilai Kekuasaan
Nilai ini bersumber dari penguasa yang melahirkan tindak-tanduk disiplin demi terlaksananya tata kepemimpinan menurut kehendak penguasa. Nilai ini biasanya diikuti sanksi bagi yang tidak melaksanakannya. Contoh; harus membayar seperti, harus jongkok bila penguasa datang dan sebagainya.

d. Nilai-Nilai Subjektif
Pengakuan dari nilai ini berdasarkan penilaian pribadi yang melahirkan tindak-tanduk yang egosentrik. Contoh; menurut saya hal ini tidak benar karena Pak Kiai tidak megatakannya, katanya hal tersebut dilarang karena pak Lebe menyartakan hal yang seperti itu dan sebagainya.

e. Nilai-Nilai Rasional
Nilai yang memberi penjelasan dan alasan perlu tidaknya dilakukan tindak-tinduk disiplin tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Contoh: jika ingin berhasil dengan baik dalam sekolah maka harus rajin belajar; jika ingin selamat maka semua pengguna jalan harus menaati peraturan rambu lalu lintas, dan sebagainya.


Kaitan dengan disiplin sekolah atau kelas, maka tindak-tanuk yang diharapkan ialah tindak-tanduk yang mencerminkan kepatuhan dan berbagai nilai yang disepakati oleh semua, baik siswa, guru, dan karyawannya yang tergantung dalam tata tertib sekolah/kelas.
Disiplin kelas merupakan hal yang esensial terhadap terciptanya perilaku tidak menyimpang dari ketertiban kelas. Dalam semangat pendekatan pendidikan disiplin hendaknya memiliki basis kemanusiaan dan prinsip-prinsip demokrasi. Prinsip kemanusiaan dan demokrasi berfungsi sebagai petunjuk dan pengecek bagi para guru dala mengambil kebijakan yang berhubungan dengan disiplin. Oleh karena itu, pendekatan disiplin yang dilakukan oleh guru harus:
a. Menggambarkan prinsip-prinsip pedagogi dan hubungan kemanusiaan;
b. Mengembangkan dan membentuk profesionalisme personel dan sosial lulusan;
c. Merefleksikan tumbuhnya kepercayaan dan kontrol dari peserta didik;
d. Menumbuhkan kesungguhan berbuat dan berkreasi, baik dikalangan guru dan peserta didik tanpa ada kecurigaan dan kecemasan;
e. Menghindari perasaan beban berat an rasa terpaksa dikalangan para peserta didik.
Disiplin mencakup setiap macam pengaruh yang ditujukan untuk membantu peserta didik. Mereka dapat memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan.
Di samping itu, disiplin juga penting sebagai cara dalam menyelesaikan tuntutan yang mungkin ingin ditunjukkan peserta didik terhadap lingkungannya. Disiplin muncul dari kebutuhan untuk mengadakan keseimbangan antara apa yang ingin dilakukan oleh indivdu dengan individu yang lain. Keseimbangan tersebut dipenuhi sampai batas-batas tertentu. Pemenuhan keseimbangan itu diusahakan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya tanpa melanggar hak-hak orang lain.
Para peserta didik, dengan disiplin diharapkan bersedia untuk tunduk dan mengikuti peraturan tertentu dan menjauhi larangan tertentu pula. Terciptanya kesefdiaan semacam ini harus dipelajari dan harus secara sadar diterima. Itu semua adalah dalam rangka memelihara kepentingan bersama atau memelihara kelancaran tugas-tugas sekolah.
Satu keuntungan lain dari adanya disiplin adalah para peserta didik belajar hidup dengan pembiasaan yang baik, positif dan bermanfaat bagi dirinya dan lingkungannnya. Lebih lanjut dengan adanya pembiasaan tersebut maka akan tumbuh jiwa tentram dalam diri dan masyarakat sekitar.
Menegakkan disiplin tidak bertujuan untuk mengurangi kebebasan dan kemerdekaan siswa. Menegakkan disiplin justru sebaiknya, ia ingin memberi kemerdekaan yang lebih besar kepada siswa dalam batas-batas kemampuannya. Akan tetapi, juga kalau kebebasan siswa terlampau dikurangi, dikekang dengan peraturan maka siswa akan berontak dan mengalami frustasi dan kecemasan. Disekolah disiplin banyak digunakan untuk mengontrol tingkah laku siswa yang dikehendaki agar tugas-tugas di sekolah dapat berjalan dengan optimal.

2. Hak Kebutuhan Siswa Dan Tampilan Guru Hubungannya dengan Disiplin
Banyak guru baru kurang menyadari bahwa peserta didik memiliki hak-hak tertentu di dalam lingkungan sekolah. Hak-hak tersebut senmuanya diatur dan diperkut oleh peraturan dan kelaziman atau tradisi yang dipelihara oleh lingkungan sekolah dan mansyarakat. Masyarakat: orang tua, wali murid, kelompok kemasyarakatan sering membawa sejumlah kasus pelanggaran terhadap hak-hak para siswa ke sekolah, ke persatuan orang tua wali, atau ke pengadilan. Beberapa hak siswa yang penting dan perlu dijamin adalah (1) hak menyelesaikan pendidikan sebaik-baiknya, (2) hak persamaan kedudukan atau kebebasan dari diskriminasi dalam kelompok, (3) hak berekspresi secara pribadi, (4) hak keleluasaan pribadi, (5) hak menyelesaikan (studi) secara cepat.
Hak-hak itu semua adalah hak-hak umum yang dimiliki para siswa. Dalam kaitan ini guru harus berusaha menerapkan dalam praktik-praktik disiplin baik pada kebijakan sekolah maupun peraturan atau hukum. Untuk hal tersebut, perlu ada garis sinkronisasi antara disiplin yang seharusnya ditegakkan dengan perimbangan peraturan yang dibuat.
Kebutuhan para siswa adalah faktor yang relevan dalam menentukan banyak sistem disiplin kelas atau sekolah. Satu contoh adalah hak dan kebuuthan tertentu dari siswa cacat dan siswa yang perlu mendapat perhatian khusus, misalnya, anak cacat tidak dapat dikeluarkan dari sekolah kecuali kalau Dewan Pertimbangan Kualifikasi Provesional menentukan lain. Penentuan itu sepeti bahwa penanganan terhadap mereka kalu diteruskan di sekolah tersebut akan merugikan kedua belah pihak.

Berkaitan dengan sejumlah besar kebutuhan para siswa, guru perlu mempertimbangkan dalam menentukan program disiplin kelas yang relevan dengan mata pelajaran yang sedang diajarkan, tingkat kemampuan umum para siswa, dan latar belakang kondisi sosio-ekonomi para siswa. Dalam beberapa kelas tingkat perhatian para siswa tidak sepenting seperti kelas lainnya, tetpi dilain kelas, terutama pada kelompok kelas yang berkemampuan rendah, guru dapat memperbaiki pola disiplin lebih baik, cermat dan seksama. Sebagai contoh siswa yang datang dari kelas berkarakter yang pola disiplinnya bertemperamen kasar, maka kondisi seperti itu akan terbawa keruang kelas. Juga banyak guru yang mengalami problem disiplin ketika para siswa gagal melihat keterkaitan pelaksanaan antara materi yang disajikan kepada kehidupan mereka.
Dalam hal khusus guru-guru memerlukan pertimbangan tentang hubungan program disiplin yang dibuat dengan motivasi individu para siswa.dalam menegakkan seperangkat ketentuan disiplin sekolah, guru perlu mengkomunikasikan bagaimana para siswa seyogyanya bertingkah laku dan apa yang akan terjadi bila siswa berkelakuan lain. Beberapa problema yang akan mengganggu disipli seyogyanya dapat diperkirakan sejak dini. Contoh dari problema tersebut adalah siswa melawan. Terhadap hal tersebut, apakah guru membiarkan perilaku siswa yang keluar dari ketentuan uang diharapkan. Tentu saja tidak, oleh karena itu, kalau terjadi hal seperti itu tindakan preventif segera dapat diterapkan.
Keberadaan gurudikelas tidak hanya bertugas menyampaikan kurikulum/materi yang direncanakan kepada para siswa, tetapi kondisi persoalan disiplin para guru itu sendiri dikelas perlu ditampilkan. Materi dan disiplin harus dikaitkan dengan pemahaman umum dari apa yang diharapkan para siswa. Program yang cukup efektif dalam memberi pemahaman disiplin misalnya, dapat dilaksanakan sekolah dengan cara melibatkan para siswa untuk mendiskusikan topik-topik yang menjadi kepedulian sekolah.
Faktor disiplin penting lain dapat berkembang pada sejumlah guru ditingkat sekolah dasar dan menengah yang mengajar secara tim. Walaupun guru tersebut tidak secara riil mengajar bersama. Mereka membuat perencanaan bersama dan menyampaikan kepada para siswa dalam bahasan yang sama pada ruang/waktu pada saat para guru mengajar. Karena para siswa diajar oleh masing-masing guru dalam kelompok tim, maka komponen penting dari disiplin harus dirumuskan. Karena kalau tidak dirumuskan akan terjadi ketidak konsistenan antara siswa satu dengan siswa lain dalam menangkap makna materi. Misalnya, seorang guru membiarkan seorang siswa menyontek, sementara yang lain tidak diijinkan. Perlakuan yang diskriminatif ini akan menimbulkan ketidak konsistenan diantara mereka. Lebih lanjut harus ada respon yang saling menguntungkan diantara mereka. Lebih lanjut harus ada respon yang saling menguntungkan diantara para profesional sekolah mengenai pelaksanaan pemeliharaan disiplin dikelas.
Guru harus memandang mereka sendiri sebagai bagian dari kelompok atau tim yang bertanggung jawab menyampaikan perencanaan pendidikan tentang disiplin. Mereka hendaknya tidak sebagai seorang akhli yang erpraktik dalam kelas yang terisolasi, melainkan perlu keterpaduan antara teori dan praktik

3. Disiplin pada Level Sekolah dan Kelas
Sekolah, dalam upaya menciptakan disiplin secara nyata sudah barang tentu akan berusaha dan melinatkan berbagai unsur atau pihak. Misalnya: dalam guru dalam memberdayakan semua kebijakan; usaha mengidentifikasi secara jelas sebab-sebab siswa berperilaku menyimpang; bekerja sama secara erat dengan orang tua, dan para pembina atau pendamping sekolah. Sekolah juga menggunakan beberapa pendekatan untuk menanggulangi perilaku menyimpang para siswa melalui manajemen pembelajaran atau kurikuler.
Beberapa kndisi yang dapat menyebabkan timbulnya problema disiplin adalah kegaduhan, corak suasana sekoah, pengaruh komunitas yang tidak diinginkan, ketidak teraturan dan ketidak ajegan dalam menerapkan peraturan atau hukum. Tipe-tipe penanggulangan problema disiplin ini biasanya didekati oleh pendekatan teknik manajerial. Misal, Kepala Sekolah dapat meminta staf sekolah, pembina, dan guru untuk mengetahui para siswa dan latar belakangnya, menyusun jadwal sebaik mungkin sehingga tidak terjadi satu kegiatan mengganggu kegiatan lain atau kegiatan berfluktuasi pada saat yang sama, menciptakan suasana seperti di rumah sendiri dengan memodifikasi sekolah secara artistik dengan tanaman hidup agar para siswa betah tinggal di sekolah. Sekolah juga dapat mengurangi problema timbulnya gangguan disiplin dengan menjalin hubungan baik dan kerja sama dengan komunitas lingkungan sekitar dan aparat keamanan lingkungan. Hubungan kerjasama tersebut seperti memberi kesempatan tersebut seperti memberi keempatan kepada masyarakat sekitar memanfaatkan sebagai fasilitas sekolahdan melibatkan mereka untuk ikut serta membangun wilayah sekitar.
Disamping itu sekolah secara teratur menyampaikan laporan dan meminta laporan kepada aparat keamanan. Memberi laporan tentang kegiatan sekolah, misal laporan kegiatan penerimaan dan pengumuman penerimaan siswa baru, pengumuman kelulusan evaluasi belajar nasonal (EBTANAS), acara pekan olah raga dan seni dan sebagainya. Meminta laporan tentang situasi keamanan pada setiap saat, dan memberi kesempatan kepada yang berwajib memberi penyuluhan tentang gerakan disiplin nasional, bahaya narkotik, tertib lalu linas dansebagainya. Banyak sekolah menghadapi bermacam-macam gangguan disiplin karena adanya watak suka merusak, perbuatan merusak fasilitas sekolah, merokok, dan penggunaan obat-obat terlarang dari para siswanya.
Uraian diatas menunjukkan bahwa manajemen kelas dalam menanggulangii gangguan disiplin adalah hal yang kompleks. Puncaknya menumbuhkan kesadaran diri bahwa guru harus merencanakan model pendekatan sendiri yang cocok dengan tampilan diri dan pembelajarnnya. Di kelas guru harus banyak bertukar pikiran dan menanyakan kepada para siswa tentang hidup dan belajar sukses. Oleh karena itu, hal-hal berikut seperti yang dikemukakan oleh McNeil dan Wiles perlu dihayati dan disimak:
a. Menunjukkan perilaku siswa yang diharapkan dimasa depan,
b. Mendengarkan, ketika para siswa menceritakan tentang kepedulian mereka,
c. Mengetahui sedapat mungkin dan seawal mungkin nama-nama para siswa,
d. Menghindari kata-kata sindiran; berlakulah positif,
e. Tersenyum, bersahabat, dan menjalin hubungan harmonis penuh respek,
f. Mengetahui karakter (sifat, watak) dan latar belakang para siswa,
g. Bila mungkin, abaikan pelanggaran-pelanggaran kecil,
h. Mencoba menghindari bentuk-bentuk hukuman secara kelompok,
i. Menciptakan disiplin kelas sebagai tujuan utama.
Disamping itu terdapat beberapa teknik yang dapat membantu pemeliharaan disiplin kelas dalam mengajar seperti berikut ini:
a. Tepat waktu dan mulailah pelajaran sesegera mungkin;
Siapkan sesuatu yang harus dikerjakan para siswa,
b. Siapkan rencana pelajaran dan informasikan kepada para siswa apa, kapan, dan dimana aktivitas itu dikerjakan,
c. Lakukan sesuatu dengan aturan dan pelaksanaan yang sama dan konsisten,
d. Bervariasi dalam aktivitas kelas,
e. Tidak mengancam dan menentang para siswa,
f. Buatlah tugas para siswa yang tepat dan cocok,
g. Jagalah dan kontrol suara guru,
h. Tegas dalam permulaan dan secara perlahan mulai dikendorkan bila hubungan sudah terjalin baik,
i. Hindari adanya siswa favorite diantara mereka,
j. Jalin hubungan kerjasama dengan orang tua.
Petunjuk tersebut kiranya dapat berguna dan sebagai penopang dalam upaya menanggulangi gangguan disiplin di kelas. Nasehat yang simpatik bagi guru-guru baru berkaitan dengan disiplin adalah “mengetahui apa yang akan dikerjakan sebelum hal itu terjadi”. Guru-guru yang berpengalaman dalam memelihara disiplin kelas ialah dengan cara mengontrol suasana kelas dan memanipulasi kelas tersebut berdasar variasi respon para siswa. Guru lain memanipulasi untuk terciptanya suasana kelas yang diharapkan adalah dengan mengembangkan penguatan verbal dan non verbal. Pengutan verbal seperti: baik, bagus, pekerjaanmu cukup rapi, dan sebagainya. Sedangkan penguatan non verbal seperti: gerakan badan, sentuhan, perubahan mimik, gerakan mendekati, memberi hadiah dan sebagainya.
{gambarnya terserah anda}
4. Membina Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat
Sekolah secara formal adalah wadah atau tempat pembinaan dan pengembangan pengetahuan , sikap dan keterampilan yang sesuai dan dikehendaki oleh masyarakat dimana sekolah itu berada. Sebaliknya masyarakat diharapkan membantu dan bekerja sama dengan sekolah agar program sekolah dapat berjalan dengan lancar dengan lulusan yang dihasilkan memenuhi kebutuhan masyarakatdan negara. Oleh sebab itu, hubungan yang saling menguntungkan antara sekolah dan masyarakat perlu dibina dan dikembangkan secara harmonis. Hubungan sekolah dengan masyarakat meliputi hubungan sekolah dengan orang tua siswa, hubungan sekolah dengan orang tua terkait, hubungan sekolah dengan dunia sekolah dan tokoh masyarakat, dan hubungan sekolah dengan lembaga pendidikan lainnya.
a. Hubungan Sekolah dengan Orang Tua Siswa
Sekolah adalah lembaga pendidikan yang secara formal dan potensial memiliki peranan paling penting dan strategis bagi pembinaan dan pengembangan generasi muda, khususnya para siswa sekolah dasar. Sedangkan orang tua siswa adalah pendidik pertama dan utama yang sangat besar pengaruhnya dalam pembinaan dan pengembangan para siswa tersebut. Oleh karena itu, sangat diperlukan hubungan yang harmonis dan terus menerus dan berkelanjutan antara sekolah dan orang tua siswa.
Hubungan sekolah dengan orang tua dapat dijalin melalui sarana wadah perkumpulan orang tua siswa, guru atau tenaga pendidikan lainya dinamakan Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan. Dengan adanya hubungan antara sekolah dan orang tua tersebut maka manfaat yang diharapkan diperoleh adalah:
1) Orang tua siswa mengetahui tentang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sekolah,
2) Sekolah mengetahui semua kegiatan orang tua dan para siswa di rumah,
3) Orang tua siswa mau memberi perhatian yang sangat besar dalam menunjang kegiatan-kegiatan sekolah.

Agar orang tua siswa mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sekolah, sekolah perlu melaksanakan antara lain hal-hal berikut ini.
1) Memberikan informasi seluas-luasnya tentang program sekolah. Pemberian informasi itu dapat diakukan misalnya dalam rapat-rapat, bazar, pameran, malam kesenian, pekan olahraga, dan melalui penjelasan tertulis.
2) Melakukan kunjungan rumah oleh guru atau kepala sekolah secara teratur atau rutin.
3) Menetapkan satu bulan dalam satu tahun pelajaran sebagai BULAN INFORMASI yang kegiatannya dapat berupa:
a) Mengadakan dialog dengan orang tua/wali siswa tentang perkembangan sekolah dan pembangunan yang sedang dilaksanakan dan yang akan dihadapi sekolah,
b) Menginformasikan bahwa sekolah sebagai lingkungan pendidikan dan berkewajiban untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia,
c) Menjelaskan bahwa manusia yang berkualitas itu hanya dapat dihasilkan oleh pendidikan yang bermutu,
d) Menyadarkan pihak orang tua/wali siswa bahwa keterlibatan mereka dala usaha meningkatkan mutu pendidikan mutlak diperlukan,
e) Meningkatkan kesadaran orang tua/wali siswa tentang betapa pentingnya pendidikan bagi anak manusia agar mereka dapat menjadi warga negara yang berkualitas dan berguna,
f) Meningkatkan kesadaran orang tua/wali siswa agar mau menyekolahkan putra-putrinya sampai tamat.
Dengan diketahuinya kegiatan-kegiatan sekolah dan dengan tumbuhnya kesadaran orang tua/wali siswa diharapkan mereka merasa memiliki, mau berpartisipasi dan mau memberi bantuan dalam melaksanakan semua rencana sekolah, sehingga kualitas lulusan diharapkan sekolah dan orang tua/wali siswa tercapai partisipasi tersebut dapat berupa:
1) Motivasi putra-putrinya untuk belajar dengan baik,
2) Melengkapi semua keperluan belajar putra-putrinya,
3) Mengarahkan putra-putrinya untuk belajar secara teratur pada jam-jam tertentu dan mengatur waktu untuk kegiatan lain di rumah, misalnya nonton TV, berkunjung kepada keluarga atau tetangga dan teman dan sebagainya,
4) Menciptakan suasana yang mendukung dalam keluarga yang dapat mendorong putra-putrinya rajin belajar,
5) Mengawasi dan mengecek putra-putrinya dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan sekolah,
6) Ikut membantu tegaknya disiplin sekolah,
7) Ikut mendorong putra-putrinya memenuhi tata tertib sekolah,
8) Ikut memberikan perhatian terhadap perkembangan situasi pendidikan sekolah,
9) Memenuhi undangan rapat dan undangan lainnya dari sekolag bagi kepentingan putra-putrinya,
10) Membantu tegaknya wibawa Kepala Sekolah dan para guru,
11) Memberikan saran dan kritik dalam menegakkan wibawa Kepala Sekolah dan Guru,
12) Membantu memelihar nama baik sekolah,
13) Mendorong agar putra-putrinya gemar membaca dan tidak lalai dalam mengerjakan pekerjaan rumah,
14) Mendorong putra-putrinya agar ikut ambil bagian dalam kegiatan ko dan ekstra kurikuler seperti: kesenian, olah raga, pramuka, UKS, dan kegiatan lain yang diselenggarakan sekolah,
15) Mendorong putra-putrinya untuk mengikuti upacara bendera dan upacara lainnya yang diselenggarakan sekolah,
16) Mendorong putra-putrinya memelihara keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, dan kekeluargaan serta kerapihan baik di rumah maupun di sekolah.

b. Hubungan Sekolah dengan Instansi Terkait
Sekolah perlu membina hubungan baik secara timbal balik dengan instansi terkait. Instansi terkait itu seperti Lurah/Kepala Desa, Puskesmas, Camat, Polsek, Koramil, LKMD dan Posyandu. Hubngan yag dijalin dan upaya yang perlu dilaksanakan oleh sekolah, antara lain sebagai berikut:
1) Menginformasikan program sekolah,
2) Ikut serta dalam kegiatan yang diadakan pemerintah, sepanjang tidak mengganggu proses belajar mengajar,
3) Pada saat yang diperlukan, Kepala Sekolah atau Guru yang ditunjuk mengadakan kunjungan ke Instansi Pemerintah sebagai salah satu pendekatan dari pihak sekolah,
4) Sekali-kali dapat mengundang Pejabat Pemerintah di luar Depdikbud sebagai pembina dalam upacara bendera.
Sedangkan dari pihak instansi terkait diharapkan agar dapat memberikan peran sertanya dalam:
1) Membantu tegaknya disiplin sekolah,
2) Ikut membantu terpeliharanya kebersihan dan keindahan sekolah,
3) Membantu nama baik sekolah,
4) Memenuhi undangan yang disampaikan pihak sekolah,
5) Membantu keamanan sekolah pada saat sekolah melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu.

c. Hubungan Sekolah dengan Dunia Usaha dan Tokoh Masyarakat
Hubungan sekolah dengan dunia usaha dan tokoh masyarakat adalah hubungan yang tidak kala pentingnya dengan jalinan hubungan dengan pihak lainnya. Program ini dapat dilaksanakan dalam bentuk:
1) Mengunjungi industri dan perusahaan untuk menambah wawasan pengetahuan para siswa,
2) Mengundang tokoh-tokoh yang berhasil dalam bidangnya untuk memberikan ceramah di sekolah.
Sedangkan dari dunia usaha dan tokoh masyarakat yang berhasil diharapkan peran serta sebagai berikut:
1) Bersedia menjadi nara sumber dan memberikan ceramah untuk siswa sebagai usaha memotivasi siswa supaya giat belajar dan bekeja keras,
2) Memberikan saran dalam menegakkan wibawa Kepala Sekolah dan Guru,
3) Menjadi nara sumber untuk pelaksanaan program muatan lokal sekolah,
4) Membantudan menyediakan fasilitas dalam melaksanakan muatan lokal bagi para siswa.

d. Hubungan Sekolah dengan Lembaga Pendidikan Lain
Dalam usaha membina dan mengembangkan hubungan dengan lembaga pendidikan lain perlu dilaksanakan upaya-upaya berikut:
1) Mengadakan kunjungan antar sekolah untuk daling bertukar pengalaman,
2) Menjalin kerjasama dalam upaya saling mengembangkan pendidikan di sekolahnya masing-masing,
3) Memberikan informasi tentang perkiraan jumlah lulusan sekolah kepada lembaga pendidikan setingkat di atasnya,
4) Mengundang pimpinan lembaga pendidikan yang lebih tinggi tingkatnya untuk memberikan ceramah tentang perkembangan penndidikan sesuai dengan jenjangnya.

5. Sumber Pelanggaran
Adalah suatu asumsi yang menyatakan bahwa semua tngkah laku individu merupakan upaya untuk mencapai tujuan yaitu pemenuhan kebutuhan. Pengenalan terhadap kebutuhan siswa secara baik merupakan andil yang besar bagi pengendalian disiplin.
Maslow mengemukakan teori “hierarchi kebutuhan manusia” yang dapat digambarkan dalam bentuk piramida kebutuhan manusia dibawah ini:
Berdasarkan bagan piramida kebutuhan manusia itu terlihat bahwa manusia meliputi kebutuhan-kebutuhan berikut ini.
a. Kebutuhan fisik (fhysical need) manusia yang merupakan kebutuhan dasar bagi kelangsungn hidupnya. Kebutuhan tersebut seperti makan, berlindung (rumah, pakaian), seks dan sebagainya.
b. Kebutuhan akan keselamatan dan rasa aman (security and safety), yaitu kebutuhan keselamatan dan rasa aman baik fisik maupun perasaan keamanan terhadap masa depan yang dihadapinya.
c. Kebutuhan rasa emiliki dan cinta kasih (love and belonging) yaiu berupa kebutuhan mencintai orang lain dan dicintai orang lain, penerimaan, pembenaran dan cinta orang lain pada dirinya.
d. Kebutuhan akan kehormatan harga diri (respect of self esteem) yaitu kebutuhan merasa dirinya berguna bagi orang lain, mempunyai pengaruh bagi orang lain, dan sebagainya.
e. Kebutuhan akan pengetahuan dan pemahaman (knowledge and understanding) terhadap berbagai hal agar individu dapat mengambil berbagai keputusan yang bijaksana terhadap beberapa hal dalam menghadapi dunianya secara efektif.
f. Kebutuhan akan keindahan dan aktualisasi diri (beauty and self actualization) yaitu kebutuhan untuk memperoleh pengalaman mengaktualisasikan dirinya dalam dunia nyata secara langsung agar dari pengalamannya ia akan lebih kreatif, toleran dan spontan.
Secara berurutan manusia menghendaki terpenuhinya semua kebutuhan tersebut yang diperoleh dengan cara yang wajar, namun sesuai dengan tata aturanyang berlaku. Bila kebutuhan ini tidak lagi dapat dipenuhi melalui cara-cara yang sudah biasa dalam masyarakat, maka akan terjadi ketidak seimbangan pada diri individu, dan yang bersangkutan akan berusaha mencapainya dengan cara-cara lain yang sering kurang diterima masyarakat. Mengambil logika seperti itu, mungkin pula pelanggaran disiplin disekolah bersumber pada lingkungan sekolah yang tidak memberi pemenuhan terhadap semua kebutuhan peserta didik khususnya, misalnya:
a. Tipe kepemimpinan guru atau sekolah yang otoriter yang senantiasa mendiktekan kehendaknya tanpa memperhatikan kedaulatan subjek didik. Perbuatan seperti itu akan mengakibatkan peserta didik akan berpura-pura patuh, apatis atau sebaliknya. Hal ini akan menjadikan siswa agresif yaitu ingin berontak terhadap kekangan dan perilaku yang tidak manusiawi yang mereka terima.
b. Pengebirian akan hak-hak kelompok besar anggota peserta didik oleh sekolah/guru. Dengan pengibirian atau pengurangan hak-hak tersebut akan menyuramkan masa depan peserta didik , padahal disisi lain mereka seharusnya turut menentukan rencana masa depannya dibawah bimbingan guru.
c. Sekolah/guru tidak atau kurang memperlihatkan kelompk minoritas baik yang ada diatas atau dibawah merata dalam berbagai aspek yang ada hubungannya dengan kehidupan sekolah.
d. Sekolah/guru kurang melibatkan dan mengikut sertakan para peserta didik dalam keikut sertanya bertanggung jawab dalam kemajuan sekolah sesuai dengan kemampuannya.
e. Sekolah/guru kurang memperhatikan latar belakang kehidupan peserta didik dalam keluarga kedalam subsistem kehidupan sekolah.
f. Sekolah kurang mengadakan kerjasama dengan orang tua dan keduanya juga saling melepaskan tanggung jawab.
Terhadap beberapa faktor atau sumber yang dapat menyebabkan timbulnya masalah-masalah yang dapat mengganggu terpeliharanya disiplin kelas. Faktor-faktor tersebut dapat diklasifikasikan kedalam tiga kategori umum yaitu masalah-masalah yang ditimbulkan guru, siswa, dan lingkungan.
a. Masalah-Masalah yang Ditimbilkan Guru
Pribadi guru sangat mempengaruhi terciptanya suasana disiplin kelas yang efektif. Guru yang membiarkan peserta didik berbuat masalah, tidak suka kepada peserta didik, lebih mementingkan mata pelajaran daripada peserta didiknya, kurang menghargai peserta didik, kurang senang, kurang rasa humor akan mengalami banyak gangguan dalam kelas. Selain itu, hal-hal berikut ini yan dapat menimbulkan disiplin kelas terganggu:
1) Aktivitas yang kurang tepat untuk saat atau keadaan tertentu;
2) Kata-kata atau sindiran tajam yang menimbulkan rasa malu peserta didik;
3) Ketidak cocokan antara kata dan perbuatan, antara teori dan praktik;
4) Bertindak tidak sopan tanpa mempertimbangan yang matang, tanpa melihat situasi;
5) Memiliki rasa ingin terkenal, rasa ingin ditakuti, atau ingin disegani;
6) Kurang pengendalian diri , seperti suka mengunjungi peserta didik ditempat orang banyak;
7) Kegagalan menjelaskan tujuan pelajaran kepada peserta didik;
8) Menggunakan metode yang kurang variatif/ monoton, sama dari hari ke hari;
9) Gagal mendeteksi perbedaan individu peserta didik,
10) Berbicara menggumam/tidak jelas;
11) Memberi tugas yang berat dan kompleks;
12) Tidak mengontrol pekerja peserta didik, apalagi mengembalikan pekerjaan tersebut;
13) Tidak memberikan umpan balik kepada hasil pekerjaan peserta didik.
{gambarnya terserah anda}
b. Masalah yang Ditimbulkan Oleh Peserta Didik
Ketidak teraturan selama proses belajar mengajar dapat disebabkan juga oleh masalah yang ditimbulkan oleh para peserta didik. Peserta didik biasanya cepat memanfaatkan situasi yang tidak memungkinkan untuk berbuat tidak disiplin.
Banyak dari mereka tidak suka/benci terhadap sekolah.hal ini dipersepsi dari adanya sekolah yang tidak memberi kepuasan kepada semua harapan : siswa dan para lulusan. Sejumlah hal yang disebabkan oleh para peserta didik berikut ini cenderung memberi konstribusi membuat disiplin kelas terganggu seperti :
1) Anak yang suka membadut atau berbuat aneh yang semata-mata untuk menarik perhatian dikelas;
2) Anak dari keluarga yang kurang harmonis atau kurang perhatian dari orang tuanya;
3) Anak yang skait;
4) Anak yang tidak punya tempat untuk mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah;
5) Anak yang kurang tidur (karena melek mata sepanjang malam);
6) Anak yang malas membaca atau tidak mengerjakan tugas-tugas sekolah;
7) Anak yang pasif atau potensi rendah yang datang ke sekolah sekedarnya;
8) Anak yang memiliki rasa bermusuhan atau menentang kepada semua peraturan;
9) Anak memiliki rasa pesimis atau putus asa terhadap semua keadaan;
10) Anak yang berkeinginan berbuat segalanya dikuasai secara sempurna.
{gambarnya terserah anda}
Sedangkan gangguan disiplin yang datang dari kelompok peserta didik dapat berupa ketidak puasan dengan pekerjaan kelas; hubungan interpersonal lemah; gangguan suasana kelompok; pengorganisasian kelompok lemah;emosi kelas dan perubahan mendadak (Ornstein, 1990:71).
1) Ketidak puasan dengan pekerjaan kelas
Ketidak puasan ini dapat disebabkan oleh tugas yang terlalu mudah atau terlalu sulit; beban terlalu ringan atau terlalu berat; penugasan cenderung kurang terbuka karenna mereka tidak siap; latihan pembelajaran bersifat verbal kurang menekankan dan keterampilan dan manipulasi aktivitas; penugasan kurang terjadwal, tidak sistematis atau membingunkan.
2) Hubungan interpersonal lemah
Hubungan interpersonal lemah dapt disebabkan pengelompokan didasarkan pertemuan atau klik: peran kelompok sangat lemah.
3) Gangguan suasana kelompok
Gangguan suasana kelompok disebabkan oleh suasana tercekam; kompetitif yang berlebihan sangat eksklusif (kelompok menolak individu yang tidak siap).
4) Pengorganisasian kelompok lemah
Pengorganisasian kelompok lemah ditandai oleh tekanan otokrasi yang berlebihan atau lemahnya supervisi dan pengamanan; standar perilaku yang terlalu tinggi atau rendah; kelompok diorganisir terlalu ketat (banyak aturan) atau terstruktur; pengorganisasian kurang memperlihatkan unsur perkembangan usia, latar belakang sosial, kebutuhan, atau kemampuan anggota kelompok.
5) Emosi kelompok dan perubahan mendadak
Emosi kelompok dan perubahan mendadak dapat diakibatkan karena kelompok memiliki watak temperamen kekhawatiran tinggi; kejadian depresi yang mendadak; ketakutan atau kegemparan; kelompok dihinggapi rasa bosan, kurang berminat atau emosionalnya lemah.

c. Masalah yang Ditimbulkan Lingkungan
Langsung atau tidak langsung lingkungan, situasi, atau kondisi yang mengelilingi peserta didik merupakan masalah yang potensial menimbulkan terjadinya gangguan disiplin kelas. Lingkungan, situasi atau kondisi tersebut adalah:
1) Lingkungan rumah atau keluarga, seperti: kurang perhatian, ketidak teraturan, pertengkaran, ketidak harmonisan, kecemburuan, masa bodoh, tekanan, sibuk dengan urusannya masing-masing.
2) Lingkungan atau situasi tempat tinggal, seperti: lingkungan kriminal, lingkungan bising, lingkungan minuman keras.
3) Lingkungan sekolah, seperti: hari-hari pertama dan hari-hari akhir sekolah (akan libur atau sesudah libur), pergantian pelajaran, pergantian guru, jadwal yang kaku/jadwal aktivitas sekolah yang kurang cermat, bau makan dari cafetaria, suasana gaduh dari praktik pelajaran musik/bengkel ruang sebelah.
Pada kenyataannya sebab-sebab pelanggaran disiplin kelas itu sangat unik, bersifat sangat pribadi, kompleks dan kadang-kadang mempunyai latar belakang yang mendalam lain dari pada sebab-sebab yang nampak. Walaupun demikian, memang ada juga sebab-sebabnya yang bersifat umum, misalnya:
1) Kebosanan dalam kelas merupakan sumber pelanggaran disiplin. Mereka tidak tahu lagi apa yang harus mereka kerjakan karena yang dikerjakan itu ke itu saja. Oleh karena itu, harus diusahakan agar siswa tetap sibuk dengan kegiatan yang bervariasi sesuai dengan taraf perkembangannya.
2) Perasaan kecewa dan tertekan karena siswa dituntut untuk bertingkah laku yang kurang wajar sebagai anak remaja.
3) Tidak terpenuhinya kebutuhan akan perhatian, pengalaman atau keberadaan pribadi siswa/status.
{gambarnya terserah anda}
6. Peraturan dan Tata Tertib Kelas
Disiplin merupakan hal penting yang harus ditanamkan pada anak didik di sekolah sedini mungkin. Sekolah adalah tempat utama untuk melatih dan memahami pentingnya disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Dengan peraturan dan tata tertib kelasyang diterapkan setiap hari dan dengan kontrol yang terus menerus maka siswa akan terbiasa berdisiplin
Kelas harus mempunyai peraturan dan tata tertib. Peraturan dan tata tertib kelas ini harus dijelaskan dan dicontohkan kepada siswa serta dilaksanakan secara terus menerus. Peraturan dan tata terti merupakan sesuatu untuk mengatur perilaku yang diharapkan terjadi pada siswa.
Peraturan menunjuk pada patokan atau standar yang sifatnya umum yang harus dipenuhi oleh siswa. Misal : siswa harus mendengarkan dengan baik apa yang sedang dikatakan atau diperintahkan oleh guru; menulis jawaban pertanyaan guru jika guru telah memerintahkannya; memberi jawaban jika guru telah menunjuknya.
Tata tertib menunjuk pada patokan atau standar atau aktivitas khusus. Misal : penggunaan pakaian seragam; mengikuti upacara bendera; peminjaman buku perpustakaan.
Peraturan dan tata tertib kelas untuk sekolah dasar seperti yang tercantum dalam Petunjuk Pengelolaan Kelas di Sekolah Dasar antara lain harus memuat hal-hal sebagai berikut:

Masuk Sekolah
 Siswa harus datang ke sekolah selambat-lambatnya 10 menit sebelum pelajaran dimulai.
Ø
 Menaruh tas dan alat tulis lainnya di laci meja masing-masing kemudian keluar kelas.
Ø
 Siswa yang mendapat tugas jaga/piket harus datang lebih awal.
Ø
 Siswa yang sering terlambat harus diberi terguran.
Ø
 Siswa yang tidak masuk karena alasan tertentu harus memberi tahu sebelum atau sesudahnya secara lisan atau tulisan.
Ø
 Guru tidak boleh terlambat atau absen tanpa ijin.
Ø

Masuk Kelas
 Siswa segera berbaris di depan kelas ketika bel berbunyi.
Ø
 Ketua kelas menyiapkan barisan.
Ø
 Siswa masuk kelas satu persatu dengan tertib dan duduk di tempatnya masing-masing.
Ø
 Guru memeriksa kerapian , kebersihan dan kesehatan siswa satu persatu:
Ø kebersihan kuku, kerapian rambut, kerapian dan kebersihan baju dan sebagainya.

Di Dalam Kelas
 Berdoa bersama dipimpin oleh seorang siswa.
Ø
 Memberi salam kepada guru
Ø dan pelajaran dimulai.
 Guru menuliskan siswa yang tidak masuk di papan absen serta alasan/ keterangan mengapa tidak masuk.
Ø
 Pada saat pelajaran berlangsung siswa harus tetap tertib, tidak boleh
Ø ribut, bercanda atau melakukan kegiatan lain yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran.
 Siswa tidak boleh meninggalkan kelas tanpa ijin atau alasan tertentu.
Ø
 Guru juga tidak diperkenangkan meninggalkan kelas ketika pelajaran
Ø berlangsung walaupun ada siswa sedang mengerjakan tugas di luar kelas.

Waktu Istirahat
 Pada saat bel istirahat berbunyi siswa keluar kelas dengan tertib.
Ø
 Guru keluar kelas setelah semua siswa keluar.
Ø
 Siswa tidak boleh berada di kelas ketika istirahat.
Ø
 Selama istirahat siswa tidak diperkenangkan meninggalkan sekolah tanpa ijin.
Ø
 Pada saat bel masuk lagi berbunyi (setelah istirahat) siswa masuk
Ø kelas dengan tertib dan duduk dengan tenang di tempat masing-masing.
 Sebaiknya guru sudah berada di kelas lebih dahulu menjelang bel masuk berbunyi.
Ø

Waktu Pulang
 Ketilka bel pulang berbunyi, pelajaran berakhir, ditutup dengan doa dan salam kepada guru.
Ø
 Guru memberikan nasehat-nasehat, mengingatkan tentang tugas-tugas, pekerjaan rumah dan sebagainya.
Ø
 Siswa keluar kelas dengan tertib.
Ø

Tujuan diterapkan peraturan-peraturan ini adalah:
 Menjelaskan manajemen kurikuler penting dalam menegakkan disiplin,
v
 Menggambarkan upaya manajerial kepala sekolah dalam memelihara disiplin sekolah,
v
 Menarik kesimpulan pentingnya menjalin hubungan antara sekolah dengan masyarakat,
v
 Menyebutkan lingkup hubungan sekolah dan lembaga pendidikan lainnya,
v
 Menyimpulakn bahwa memberi/ meminta laporan secara teratur kepada
v aparat keamanan penting sebagai langkah pemeliharaan disiplin sekolah,
 Menyebutkan beberapa kondisi yang dapat menyebabkan disiplin sekolah terganggu,
v
 Menjelaskan alasan mengapa penguatan verbal dan non verbal berpengaruh kepada terciptanya disiplin kelas,
v
 Menjelaskan beberapa masalah yang ditimbulkan guru sehingga mempengaruhi tegaknya disiplin,
v
 Menjelaskan beberapa masalah yang ditimbulkan peserta didik yang menganggu terpeliharanya disiplin,
v
 Menjelaskan beberapa masalah lingkungan yang mempengaruhi terciptanya disiplin,
v
 Menyebutkan sebab-sebab umum yang mengganggu tegaknya disiplin.
v
Disiplin merupakan hal penting yang harus ditanamkan pada anak didik di sekolah sedini mungkin. Sekolah adalah tempat utama untuk melatihkan dan memahami pentingnya disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Dengan peraturan dan tata tertib kelas yang diterapkan setiap hari dan dengan kontrol yang terus-menerus maka siswa akan terbiasa berdisiplin.
Kelas harus mempunyai peraturan dan tata tertib. Peraturan dan tata tertib kelas ini harus dijelaskan dan dicontohkan kepada siswa serta dilaksanakan secara terus-menerus. Peraturan dan tata tertib merupakan sesuatu untuk mengatur perilaku yang diharapkan terjadi pada siswa.
read more “manajemen kelas”